Monday, February 26, 2007

Resensi pilem D'Bijis [reposted]

Prolog

Inilah pertama kali setelah berbulan-bulan, gw iseng nonton film di cinema. Yang gw tonton kali ini adalah film hasil karya anak bangsa. Judulnya D'Bijis. Jenisnya pastilah komedi, liat aja poster yang dipejeng di depan situ! Tampang mereka gw apal bener: para pelawak yang suka nongol di tivi tiap Minggu. Tapi kok di poster itu mereka keliatan nggak lucu-lucu amat.. Biarin ah, wong cuma ceban doang bayarnya (nomat!)

Nah, kita --gw dan si upil-- pun mempersiapkan segala ritual pendahuluannya, yakni ngantri di depan loket, beli karcis dan milih tempat duduk sambil godain mbak2 yang ada di balik kaca itu, trus beli brondong jagung....

"Mas, brondong yang kantong gede satu!" kata gw dengan lantang, dan orang-orang di sekitar situ pada ngeliat ke gw dengan tatapan rada aneh. Mas-mas yang jaga counter itu nyengir kuda lalu melaksanakan tugasnya dengan sigap. Si upil beringsut menjauh, pura2 nggak kenal.

(Apa anehnya coba?? I was just using the word "brondong" instead of "popcorn" because I myself is an Indonesian citizen who live all my life in Indonesia and now is going to watch an Indonesian movie at a local Indonesian cinema, blah-blah-blah...)

Dan jujur aja, gw sendiri sebenernya lebih suka kacang kulit atau kwaci, tapi itu bisa dianggep melanggar tradisi yang sudah jadi standar internasional: brondong jagung! Dan pihak pengelola bioskop rupanya sangat menjaga tradisi globalisasi nan adiluhung itu. No kacang kulit!

Akhirnya, setelah nunggu bangsa 30 menit, kita dipersilakan masuk, trus duduk di bangku yang sesuai dengan nomor yang tertera di karcis. Semuanya tertib dan nurut. Nggak ada yang sikut-sikutan atau saling serobot, atau bilang kepada calon tetangga sebelah: "Mbak jangan duduk di sini, ada bekas muntahan loh!" (biar bangku sebelah kita kosong dan lega, hihi..)

Pertunjukan dimulai!

Pilemnya jelek.. garing.. aneh.. bosenin.. bikin bete.. banyolan yang aneh... dan seterusnya.. dan seterusnya....

Epilog

Dan akhirnya, film yang terasa panjang itu berakhir. Penonton ada yang puas, ada yang kliatan masygul. Kita bergegas keluar, nyari tempat di sudut gedung buat merokok dan (pura-puranya) mendiskusikan film yang barusan kita tonton, Dan, setelah gw inget-inget, ternyata sampai sekarang gw nggak inget ending-nya film itu gimana! Yang ada dalam ingatan gw sampe sekarang: si Tora Sudiro itu mengenakan cincin yang bagus di jemarinya, gambar tengkorak. Cuma itu deh.


4 comments:

KuRpiX said...

emang kalo makan BERONDONG terus2an begitu, memamah biak ya???
ihix ihix...

huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.............

Anonymous said...

Panjanggg...bocen bacanya...
langsung ke bagian bawah...wah..tora pake cincin tengkorak??

mbakanggun said...

... sombong ...

KuRpiX said...

sik untung awakmu ga ngomong :

"mas, CONTONGnya yang gede satu!"

kan biasane awakmu distorsi kuping, mata, ambek contong....wakakkakakaa....