Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts

Monday, July 02, 2007

Lumpurnya kenapa (lagi)?


Sekuel dari bencana di Sidoarjo itu memang nggak semengerikan dalam bayangan saya setahun silam, ketika saya bikin postingan tentang lumpur Lapindo di
blog saya yang dulu. Rentetan kejadiannya, ternyata, cuma berlanjut di sekitar persoalan ganti rugi tanah buat sodara-sodara kita yang jadi korban, lempar-lemparan tanggung jawab di antara para capitalist dan authority, lalu peristiwa "crying president"... huh!

Tapi tetap saja.. cuma sedikit di antara kita yang menyoal "teknologi tampon" yang musti dipake buat mengakali bocoran itu (mother nature lagi mengalami menstruasi, hihi). Cuma sedikit yang menaruh perhatian pada temuan tentang retakan sungai purba di lokasi tersebut. Juga, yang mempersoalkan berapa kira-kira biayanya, dan... seberapa besar kemampuan anak bangsa kita dalam memanfaatkan teknologi paling modern untuk mengatasi bencana ini.

Lhah, tapi kan kita udah modern banget!

Liat aja di pameran komputer dan telepon seluler di Jehacece, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antrean mobil pengunjung sampai bisa menimbulkan kemacetan luar biasa di sekitar lokasi. Sepertinya gede banget jumlah transaksi di situ. Gede banget anu kita, upss,, antusiasme kita terhadap teknologi wayerles, triji, dan sebagainya...


Bisa jadi, dalam agama baru di masyarakat kita yang bernama "modernism", henpon dan leptop canggih adalah ajimat yang musti dipunyai buat meningkatkan spiritualitas seseorang (dan kitab sucinya adalah manual book serta berbagai artikel yang mengulas teknologinya..).

Di antara Anda ada yang jadi penganutnya?
That's okay... selama kalian juga nggak mengusik kepercayaan tradisional saya sebagai penyembah pohon, hihi...

Tapi saya perlu menekankan bahwa "menguasai teknologi" kadang memang beda banget artinya dengan "menguasai pengoperasian peranti berteknologi". Karena itulah, si Adjat, tukang rokok di depan kantor saya yang sekarang berubah jadi rada tulalit gara2 telinganya sering disumpal pake earphone yang menjuntai dari henpon-nya, belum tentu bisa dibilang "menguasai teknologi multimedia"... Itu menurut saya...

Jadi.... anggaran buat beli henpon dan leptop baru itu mendingan kita tabung.. sebagai persiapan buat dana pendidikan anak cucu kita kelak, supaya di abad mendatang mereka jadi orang-orang yang pinter di bidang pure science, lalu menguasai teknologi yang lebih useful daripada cuma ngulik henpon, dan berhasil menemukan cara yang pas buat mengakali semburan lumpur Lapendos itu. Begitukah? Tepat sekali.

(Bisa jadi, ini adalah argumen yang paling gak nyambung di antara seluruh penjuru blog! Tapi ah, masuk akal banget kok. Lagian, suka-suka gw dunk, wong ini blog gw sendiri, huahahaaa....)